Bahkan, lanjut kader PKS
ini, untuk ke depan batas daerah dua kabupaten itu bukan sebatas tugu atau gapura saja. Tapi memiliki fungsi publik yang lebih rekreatif dan informatif.’’Bukan sekadar batas saja, tapi juga bisa menjadi tempat istirahat (rest area) terpadu yang memiliki informasi-informasi menarik tentang kawasan pendidikan, industri, wisata, investasi, agrobisnis dan potensi lainnya yang ada di Sumedang,” paparnya.
Dia mengatakan, kalau ingin menjadikan Sumedang sebagai puseur Budaya Pasundan, maka kekhasan ‘Kota Tahu’ harus ditampilkan dan diinformasikan di setiap perbatasan melalui tugu atau gapura tersebut. ’’Jangan hanya sekadar slogan. Insya Allah kalau Kecamatan Jatinangor sudah menjadi kawasan perkotaan, kita akan buat rest area khusus di perbatasan kabupaten untuk lebih mengangkat potensi Sumedang,” tekadnya.
Bukan hanya di perbatasan Jatinangor-Cileunyi, Kabupaten Bandung, tapi juga di kecamatan lain yang berbatasan langsung dengan kabupaten sekitar Sumedang perlu dibuatkan gerbang batas yang memiliki fungsi publik, rekreatif dan informatif.
’’Saya mengimbau semua pihak agar dirawat kebersihan dan keindahannya, harus bersama sama tanggap dan sigap menjaga gerbang dan tugu tersebut sebagai etalase memasuki kawasan Sumedang,” ajaknya. (SOL)
1 komentar:
Setuju,
Seharusnya gerbang/tugu selamat datanng diperbatsan harus lebih menonjolkan citra Sumedangnya..
klo bisa dibuat dengan arsitektur yg bercitarasa seni tinggi kenapa tidak???
sepperti di Bali, misalnya.....
ayo, pemerintah daerah..
perhatikan hal2 sepele seperti ini.
Poskan Komentar